Ibu, sosok terbaik pemberi kasih sayang dan ketulusan yang tiada tara, dengan sang ayah yang senantiasa menjaga
-Abdurrahman-
Lutfia, bukan siapa-siapa. Tapi ia
menjadi seseorang yang akan disebut namanya di Surga kelak oleh Yusuf, anak
tercintanya. Dan ia akan menjadi satu-satunya yang direkomendasikan Yusuf,
seandainya Allah memperkenankannya menyebut satu nama yang akan diajaknya
tinggal di Surga, meski Lutfia sendiri nampaknya takkan membutuhkan bantuan
anaknya, karena boleh jadi kunci surga kini telah digenggamnya.
Bagaimana tidak, selama dua hari
Lutfia menggendong anaknya yang berusia belasan tahun mengelilingi Kota
Makassar untuk mencari bantuan, sumbangan dan belas kasihan dari warga kota,
mengumpulkan keping kebaikan dan mengais kedermawanan orang-orang yang dijumpainya,
sekadar mendapatkan sejumlah uang untuk biaya operasi anaknya yang menderita
cacat fisik dan psikis sejak lahir.
Tubuh Yusuf, anak tercintanya yang
seberat lebih dari 40 kg tak membuat lelah kaki Lutfia, juga tak menghentikan
langkahnya untuk terus menyusuri kota. Tangannya terlihat genetar setiap
menerima sumbangan dari orang-orang yang ditemuinya di jalan, sambil sesekali
membetulkan posisi gendongan anaknya. Sementara Yusuf yang cacat, takkan pernah
mengerti kenapa ibunya membawanya pergi berjalan kaki menempuh ribuan
kilometer, menantang sengatan terik matahari, sekaligus ratusan kali menelan
ludah untuk membasahi kerongkongannya yang kering sekering air matanya yang tak
lagi sanggup menetes.
Ribuan kilo sudah disusuri, jutaan
orang sudah dijumpai, tak terbilang kalimat pinta yang terucap seraya menahan
malu. Sungguh, sebuah perjuangan yang takkan pernah bisa dilakukan oleh siapa
pun di muka bumi ini kecuali seorang makhluk Tuhan bernama; Ibu. Ia tak sekadar
menampuk beban seberat 40 kg, tak henti mengukur jalan sepanjang kota hingga
batas tak bertepi, tetapi ia juga harus menyingkirkan rasa malunya dicap
sebagai peminta-minta, sebuah predikat yang takkan pernah mau disandang
siapapun. Tetapi semua dilakukannya demi cintanya kepada si buah hati, untuk
melihat kesembuhan anak tercinta, tak peduli seberapa besar yang didapat.
Tidak, ia tak pernah berharap apa pun jika kelak anaknya sembuh. Ia tak pernah meminta anaknya membayar setiap tetes peluhnya yang berjatuhan setiap jengkal tanah dan aspal yang dilaluinya, semua letih yang menderanya sepanjang jalan menyusuri kota. Ibu takkan memaksa anaknya mengobati luka di kakinya, tak mungkin juga si anak mengganti dengan seberapa pun uang yang ditawarkan setiap hembusan nafasnya yang tak henti tersengal.
Lutfia, adalah contoh ibu yang boleh jadi semua malaikat di langit akan mengagungkan namanya, yang menjadi alasan tak terbantahkan ketika Rasulullah menyebut "ibu" sebagai orang yang menjadi urutan pertama hingga ketiga untuk dilayani, dihormati, dan tempat berbakti setiap anak. Lutfia, barangkali telah menggenggam satu kunci surga lantaran cinta dan pengorbanannya demi Yusuf, anak tercintanya. Bahkan mungkin senyum Allah dan para penghuni langit senantiasa mengiringi setiap hasta yang mampu dicapai ibu yang mengagumkan itu.
Sungguh, cintanya takkan pernah terbalas oleh siapapun, dengan apapun, dan kapanpun. Siapakah yang lebih memiliki cinta semacam itu selain ibu?
#Repost.dudunk.net
Tidak, ia tak pernah berharap apa pun jika kelak anaknya sembuh. Ia tak pernah meminta anaknya membayar setiap tetes peluhnya yang berjatuhan setiap jengkal tanah dan aspal yang dilaluinya, semua letih yang menderanya sepanjang jalan menyusuri kota. Ibu takkan memaksa anaknya mengobati luka di kakinya, tak mungkin juga si anak mengganti dengan seberapa pun uang yang ditawarkan setiap hembusan nafasnya yang tak henti tersengal.
Lutfia, adalah contoh ibu yang boleh jadi semua malaikat di langit akan mengagungkan namanya, yang menjadi alasan tak terbantahkan ketika Rasulullah menyebut "ibu" sebagai orang yang menjadi urutan pertama hingga ketiga untuk dilayani, dihormati, dan tempat berbakti setiap anak. Lutfia, barangkali telah menggenggam satu kunci surga lantaran cinta dan pengorbanannya demi Yusuf, anak tercintanya. Bahkan mungkin senyum Allah dan para penghuni langit senantiasa mengiringi setiap hasta yang mampu dicapai ibu yang mengagumkan itu.
Sungguh, cintanya takkan pernah terbalas oleh siapapun, dengan apapun, dan kapanpun. Siapakah yang lebih memiliki cinta semacam itu selain ibu?
#Repost.dudunk.net
0 komentar:
Posting Komentar